Tuesday, 16 November 2010 | By: Vina Arisandra

Unpredictable Love Part 4

PART IV

Cakka membongkar gudang rumahnya, mencari beberapa benda penting. Setelah sejam berkutat dengan dus-dus besar, akhirnya ia menemukannya. Beberapa dus yang sudah sekitar 5 tahunan ini berdiam di sudut gudangnya, membuatnya menghentikan pencarian.

Cakka mengibas-ngibaskan tangannya, agar debu tidak masuk ke dalam alat pernapasannya. Ia memindahkannya ke kamarnya setelah dibersihkan.

Cakka mengambil sebuah album foto dari sekian banyak album yang ada disana. Perlahan, ia membukanya, dan ketika itu juga, semua kenangannya bermain kembali untuknya. Cakka meraba foto yang dilihatnya pertama kali.

Sebuah gambar dirinya dengan seorang anak perempuan yang sedang piknik bersama. Tawa anak perempuan itu yang begitu manis, bahkan masih sangat jelas terngiang dalam telinganya saat ini. Seorang anak perempuan yang amat disayanginya, lebih dari sgalanya. Semua akan ia berikan, hanya untuk anak itu.

Seorang gadis kecil dengan rambut panjang yang dikuncir kuda. Gaya pakaiannya pun feminin sekali. Cakka membandingkannya dengan sebuah foto seorang gadis muda dalam pigura di mejanya. Yang berhasil diambilnya dari website sekolah. Sangat berbeda sekali.

Pantas saja pada awalnya cakka sangat sulit menemukan gadis itu kembali, penampilannya sudah benar-benar berubah. Sama sekali berbeda dengan yang dulu dikenalnya. Tapi rasa yang sudah tersimpan sejak dulu itu, tak mudah menghilang seiring dengan perubahan-perubahan sang gadis.

Hanya saja, sedikit rasa tertarik sedikit menghilang dari hatinya. Bila bisa memilih, ia akan memilih gadis yang ada di foto itu, bukan yang sekarang.

“agni, gue kangen sama lo yang dulu ag,” ucapnya jujur dari lubuk hatinya yang terdalam.

Ya, cakka merindukan agninya yang dulu. Agni yang feminin, riang, ceria, perhatian, bawel, dan sangat dekat dengannya. Bukan agni yang tomboy, pendiam, dan sedikit cuek seperti ini. Ditambah sekarang agni tidak mengenalinya sama sekali.

Deretan pertanyaan siap ia luncurkan pada zevana esok hari. Atau bila zevana tidak ingin memberitahunya, ia akan bertanya langsung pada agni. Tak peduli dengan tatapan heran para fansnya. Sepertinya benar apa kata zevana kemarin, ia terlalu terburu-buru mendekati agni.
***
 zevana berusaha mendekati shilla dan sivia. Penasaran sekali dengan nathan dan cakka. Ingin tahu hubungan keduanya. Sekaligus memastikan, apakah nathan adalah alvinnya? Alvin yang telah pergi dan menghilang?

Lamunan zeva terbuyarkan oleh bunyi buku yang dibanting oleh sivia di atas meja. Ia menengadahkan kepalanya menatap sivia yang terlihat marah. “emm, siv, kok lo disini? Kelas lo kan di sebelah,” tanya zevana memberanikan diri. Seram juga melihat sivia yang selalu lembut ini marah.

Sivia mendelik kesal pada zevana. Zevana menelan ludah, takut sivia meluapkan amarah padanya. Perkiraan zevana salah, sivia malah berkata dengan nada biasa, sama sekali tidak terdengar bahwa sedang marah. “gue tukeran kelas sama shilla. Gara-gara cakka! Katanya dia mau jagain shilla!”

“jagain shilla? Buat apa? Emangnya shilla lagi diuntit paparazi? Atau dikejar wartawan?” Tanya zevana tidak paham. Sepenglihatannya, shilla  baik-baik saja, apa yang harus dijaga?

Sivia tampak berpikir, kemudian mencondongkan kepalanya lebih dekat dengan zevana. “lo masa lalunya cakka kan? Lo bisa gue percaya?” Tanyanya ragu.

Zevana mengangguk meyakinkan. Sivia tersenyum, kemudian kembali duduk seperti semula. Ia berbisik dan memulai ceritanya. “cakka, gue, sama shilla sepupuan. Tapi gue gak tau kenapa shilla selalu lebih diperhatikan. Kadang gue bertanya-tanya sendiri, apa gue jahat? Atau gue jelek? Gue tidak baikkah? Gue gak nemuin kesalahan dalam diri gue, tapi kenapa gak pernah ada yang merhatiin gue? Gue selalu dimarahin dan gak dianggep. Bahkan cakka hanya baik sama gue kalau shilla yang minta. Emangnya ada yang salah sama gue ya?” Curhat sivia.

Zevana dapat mendengar nada keputusasaan dari sivia. “lo gak jahat, lo baik. Lo gak jelek, justru lo cantik siv. Gue malah lebih gak ngerti masalah lo ini. Ya mungkin cakka mengira lo baik-baik saja, dan shilla lebih butuh perhatian. Dari yang gue denger dari beberapa artis disini, katanya shilla suka minum ya? Mungkin itu yang menyebabkan cakka ingin ngejagain dia siv. Jangan nethink lah,” kata zevana.

Sivia tersenyum. Kata-kata zevana barusan memberikan semangat baru untuknya. “thanks ya. Ohya, gue boleh tau, siapa orang yang dicari cakka selama ini?” Tanya sivia.

Sivia sangat ingin tahu, siapa gadis yang selama ini dicari oleh cakka, yang begitu berharga bagi cakka, hingga cakka menyalahkan alvin, dan membuat jiwa alvin sendiri masih terguncang sampai sekarang.

Melihat tatapan zevana yang menghindar, ia mengerti, zevana memiliki rasa pada cakka, dan tidak mau membahasnya. “ups, gak papa kalo lo gak mau jawab. Sori udah ikut campur. Hehe,” kata sivia.

Zevana mengangguk dan tersenyum. “eh siv, gue penasaran deh sama nathan. Kayaknya dia ngehindar bersosialisasi banget. Terus, kemarin gue denger dia ngomong sendiri. Dia.. Sakit jiwa ya?” Tanyanya hati-hati, dengan memelankan suaranya di kata ‘sakit jiwa’.

Sivia menelan ludah. Dalam hati memaki nathan yang ceroboh sekali. Sudah ia peringatkan, jangan pernah membiarkan teman khayalannya mengganggu di sekolah. Dan sekarang, sudah ada yang tahu. Dan tak menutup kemungkinan, kabar ini akan tersiar ke seisi sekolah dan membuat nathan kembali tersudutkan.

Zevana mengibas-ngibaskan tangannya di depan sivia. Tidak berkedip sama sekali. “siv!” Tegur zevana.

“hah? Ya? Kenapa?” Tanya sivia kelabakan.

“kok lo ngelamun? Jawab dong,” desak zevana.

Sivia tersenyum tipis. “masa nathan waras begitu lo bilang sakit jiwa sih? Kalo dia ada, nanti tersinggung terus marah loh. Dia memang seperti itu, pendiam dan dingin. Tapi kalo lo mau deketin dia, silahkan saja,” canda sivia.

Zevana tertawa kecil. “bener loh ya? Nanti gue deketin deh. Penasaran,” katanya ikut-ikutan.

Dalam hati, sivia sangat berharap pada zevana. Semoga gadis di hadapannya ini bisa mengembalikan alvinnya yang dulu.
***
Kelas musik diriuhkan dengan anak-anak yang sedang mencari pasangan duet. Audisi duet akan diadakan minggu depan. Semua sibuk mencari lagu dan pasangan.

Agni menuliskan daftar pasangan yang akan tampil nanti. Ia melayangkan pandangannya ke seisi ruangan. Bahkan dirinya sendiri belum mendapatkan pasangan. Kira-kira, siapa yang akan mengajaknya?

“agni,” panggil cakka pelan.

Agni menoleh, dan menunggu kelanjutannya. Cakka mengulurkan tangannya dengan sedikit membungkuk. “mau jadi pasangan gue?” Tawarnya sambil tersenyum.

Agni tersentuh oleh senyum manis cakka. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menerimanya. Ia tersenyum dan meletakkan tangannya diatas tangan cakka yang menantinya. Ia mengangguk pelan. Hanya orang bodoh yang akan menolak ajakan seorang cakka.

Cakka menggenggam tangan agni dan mengecupnya. Muka agni merona merah, semua yang ada disana sampai mematung melihat keduanya. Cakka menegakkan badannya dan berdeham. Semua kembali dalam kesibukan masing-masing, walau mereka selalu curi-curi pandang terhadap keduanya. Mencurigakan.

Zevana dan nathan bergidik melihatnya. Berlebihan sekali cakka. Tidak sadarkah ia bahwa ini di depan umum? Dan tidak sadarkah ia akan statusnya? Yang notabene sebagai artis? Bagaimana kalau ada yang merekam atau memotret keduanya tadi? Lalu disebar ke seluruh media massa? Ini bisa memengaruhi kehidupan agni.

Zevana menghampiri cakka. Tidak habis pikir dengan kelakuan cakka tadi. Terlalu terburu-buru sekali. Zevana menarik cakka menjauh. “cak! Bisa sabar dikit gak sih? Lo tuh ngebet banget sih sama agni! Inget status lo sekarang. Masa tiba-tiba lo jadi manis banget dan pedekate terang-terangan sih? Semua butuh proses cak!” Marah zevana setelah tiba di sudut yang sepi.

Cakka memutar bola matanya. “kelamaan itu vana! Udah deh, jangan mikirin status gue. Gue aja gak mikirin, napa lo yang ribet sendiri sih?”

Zevana baru akan berucap kembali, namun cakka sudah menyela. Ia menepuk kedua bahu zevana dan menatapnya tepat di mata zevana. “tenang aja. Gue jamin tidak akan terjadi sesuatu. Gak lama lagi dia pasti inget gue. Dan semua akan kembali normal,” kata cakka sangat yakin.

Zevana menatap punggung cakka yang semakin menjauh. Dalam hati menyanggah kata-kata cakka barusan. Tidak akan bisa kembali normal. Seingatnya, agni pernah bercerita padanya, tentang orang yang selalu diharapkan agni. Dan sepenuh hati zevana yakin, kalau orang itu bukan cakka. Ditambah dengan masa lalu mereka, zevana semakin yakin, bahwa yang dirindukan agni bukanlah cakka, melainkan alvin.

“ehm!” Seseorang berdeham tepat di belakang zevana. Zevana berbalik. Sapuan rambutnya yang dikuncir mengenai orang itu.

“eh nathan. Kenapa nath?” Baru kali ini nathan menghampirinya.

“rambut lo. Lepas kunciran lo,” kata nathan risih. Tidak suka sekali dirinya melihat zevana yang selalu menguncir rambut.

Zevana menunjuk rambutnya yang dikuncir dengan tatapan bertanya. Nathan mengangguk. “gak ah. Nanti ada yang kesel kalo gue lepas,” tolak zevana halus.

Nathan mengulurkan tangannya dan langsung melepas kunciran zevana, lalu merapikannya. Zevana membeku di tempatnya. Ia terus menatap nathan yang bersikap cuek saja. Ia jadi teringat dengan seseorang, yang selalu memintanya menggerai rambutnya, dan akan memperlakukannya seperti ini bila ia menolak.

“alvin,” gumamnya tidak sadar.

Nathan tersenyum menanggapinya. Setidaknya ia bisa memaksakan senyumnya. “masih inget sama gue ya zev?” Katanya setelah mundur sedikit.

Mata zevana melebar. Apa? Dia benar-benar alvinnya? “alvin!” Pekik zevana tertahan.

Nathan segera menutup mulut zevana dengan tangannya. “cukup lo yang tau. Jangan sampai tersebar,” bisiknya.

Zevana mengangguk kecil. Sangat terkejut dan tak percaya dengan ucapan nathan barusan. “lo? Alvin? Alvin jonathan sindunata? Ini serius elo?” Tunjuknya pada nathan.

“iya! Cerewet! Jangan panggil gue alvin! Panggil nathan saja!” Sikapnya yang sedikit lembut tadi, berubah ketus kembali.

Senyum zevana mengembang. “gue kangen banget sama lo vin! 5 tahun lalu, pemberitaan sempat heboh gara-gara hilangnya lo. Dan lo..”

“dinyatakan meninggal karna gue bener-bener hilang dari muka bumi,” lanjut nathan santai.

Zevana mengangguk. “dicari dimana-mana tidak ketemu. Padahal banyak paparazzi yang bener-bener nyari lo sampe ke luar negri. Tapi lo gak ditemukan juga. Gimana caranya lo ngilang?” Tanyanya penasaran.

“rahasia. Ohya, gue liat-liat, lo masih suka sama cakka ya?” Tanya alvin tepat.

Zevana melengos. “kebiasaan lo deh ya. Ngomong selalu to the point. As you can see,” jawab zevana.

Alvin menepuk bahu zevana. “yang sabar aja. Gue duluan. Bahaya kalo ada yang denger percakapan kita. Emm, don’t tell anyone about me. I trust you,” nathan mengakhirinya dengan senyum tipis, kemudian berlalu meninggalkan zevana.

Zevana tersenyum sendiri. Kenangannya akan alvin berputar kembali di kepalanya. Cara bicaranya, auranya, dan bahkan perhatiannya, tak pernah berubah. “zevin,” gumamnya kembali.
***
 Cakka duduk di kursinya. “zy!” panggilnya dengan melambaikan tangan.

Ozy segera mendatanginya. “kenapa cak?” tanyanya.

“hape gue mana? Hari ini terakhir kan syutingnya? Berarti besok gue bebas dong?”

Ozy menyodorkan hape yang diminta cakka. “iya. Emang lo mau ngapain?”tanyanya heran. tak biasanya cakka bertanya dengan semangat seperti ini.

Cakka menepukkan kedua tangannya. “asik! Kalo gitu gue gak mau terima job apapun selama sebulan ini! bilang aja gue vakum sementara atau apalah!” suruhnya.

Ozy mengangkat sebelah alisnya. “what?! Sebulan?” ulang ozy setengah berteriak.

“sstt! Slow aja bisa kali!”

“sori. Kaget gue. lo kan gak pernah stop terima job, masa ini mau vakum dulu? katanya mau jadi artis terkenal,” kata ozy.

Cakka mengalihkan pandangannya ke arah lain. “ada yang harus gue lakuin. Penting banget. dan gue butuh 1 bulan untuk nyelesainnya.”

Ozy sepertinya mengerti maksud cakka. ia tersenyum. “oh. Yaudah deh, selesain sana masalah cinta lo. good luck.”

Cakka terkekeh mendengarnya. Ozy selalu mengerti dirinya. bahkan rahasia pribadinya pun ia percayakan pada ozy. Sekarang dia punya waktu 1 bulan. Akankah dalam 1 bulan, agni akan mengingatnya kembali? Dapatkah ia merebut hati agni kembali?
***
“shil,” panggil nathan canggung. Kaku sekali memanggil shilla untuk pertama kalinya setelah 3 tahun yang panjang ini.

Shilla menoleh ke sumber suara dengan tersenyum senang. Kemajuan yang sangat baik bila nathan mau mengajaknya bicara duluan. Ia hanya diam, menunggu kelanjutan dari nathan.

Nathan tampak ragu. “emm, boleh pinjem mobil lo? kalo lo mau pake juga gak papa kok, gue pinjem ke sivia aja,” ungkapnya tidak enak.

Mata shilla berbinar. Hei, bahkan untuk pertama kalinya alvin mau keluar dari rumah dan meminjam mobil! Ia yakin, tidak mungkin nathan hanya pergi sendiri, pasti ia akan bersama orang lain. Bagus bila nathan mau mulai bersosialisasi.

“boleh gak?” tanya nathan yang mulai risih dilihatin seperti itu terus.

Shilla mengangguk cepat. segera ia meraih kunci mobilnya yang tersimpan di lacinya dan menyerahkannya pada nathan. “mau kemana? sama siapa? Sama cewek ya? ciee.. semoga lo dapetin cewek yang cocok sama lo,” asal shilla yang menjadi heboh sendiri.

Nathan paling anti mendengar hal-hal seperti ini. hanya akan mengingatkannya akan luka yang membekas di hatinya. Shilla yang melihat pandangan lirih nathan segera mengalihkan pembicaraan. Bisa gawat kalau mood nathan yang sudah baik malah redup lagi karenanya. “jadi pergi nath? Jangan lupa pulang,” pesannya.

Nathan mengangguk dan segera pergi dan melajukan mobil shilla. setiap kali ia pergi dari rumah, bahkan untuk sebentar saja, itu pun jarang, shilla dan sivia selalu berpesan padanya untuk pulang. Mungkin mereka takut, bila ia pergi dan takkan pulang kembali, seperti yang pernah dilakukannya dulu.

Dua puluh menit, waktu yang dibutuhkannya untuk mencapai tempat tujuannya. Ia berpikir sejenak. Menyusun kata-kata sekaligus mengumpulkan keberaniannya. Setelah merasa sanggup, ia turun dari mobil, dan menekan bel rumah di depannya.

Tak ada yang membukakan pintu. Ia melirik jam tangannya. Ya, masih sepuluh menit lagi sebenarnya janjiannya. Ia hanya ingin lebih cepat, tak sabar menunggu kejelasan dari semua ini. perlahan, seorang gadis dengan rambut tergerai berjalan cepat ke arahnya. Menjaga tatanan rambutnya agar tidak berantakan.

Gadis itu tersenyum manis. “mau masuk dulu atau langsung?” tanyanya.

Nathan membalas senyumannya, meski tidak semanis gadis itu. sejak bertemu kembali dengan gadis ini, bagaimana caranya, rasanya lebih mudah untuk tersenyum kembali. Ia menunjuk ke arah mobil. Gadis itu mengangguk dan mengikuti nathan.

Sepanjang perjalanan, nathan hanya diam saja mendengarkan celotehan-celotehan yang terlontar dari gadis manis di sebelahnya ini. bercerita begitu banyak, kadang ia tertawa dan tersenyum, begitu lepas dengan nathan di sebelahnya.

“udah zev, distop dulu bisa gak? Kita mau bahas masalah lain,” kata nathan heran. kembali, gadis ini bisa membuatnya berbicara panjang. Mungkin kenyamanan dan kepercayaannya terhadap gadis inilah yang membuatnya begitu.

Zevana merengut kesal. setelah mengambil tempat duduk di dekat kaca kafe dan memesan minuman, ia memulai kembali pembicaraan pada sosok di depannya ini. “jadi? Lo mau gue cerita tentang apa? Kayaknya tadi gue udah cerita banyak deh.”

Raut wajah nathan tampak serius. “agni. ceritain gue tentang dia,” katanya serius.

Zevana yang sudah menduganya sejak awal nathan mengajaknya bertemu bersikap biasa saja. “seperti yang lo liat di sekolah. Apalagi yang perlu gue ceritain?”

Nathan menatap zevana lekat-lekat. “gue serius zev. Gue tau lo ngerti apa yang gue maksud. Ini berhubungan dengan hidup gue zev! Dan kita berempat,” desaknya.

“apa yang mau lo tau? gue akan cerita sebatas yang gue mau. Dan lo gak bisa maksain kalo gue gak mau.” Zevana paling tidak bisa menolak permintaan nathan dan cakka. apalagi ia dapat menemukan kerinduan yang mendalam dari sorot mata sosok laki-laki di hadapannya ini. benar-benar melemahkannya.

Nathan tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke luar kafe. Menunggu minuman datang baru mulai berbicara. “kenapa lo gak kasih kabar ke gue kalo dia gak meninggal gara-gara kecelakaan itu?”

Zevana memutar-mutar sedotannya dan menjawab, “karna saat gue nemuin dia di rumah sakit tempat pesawat itu jatuh, dia udah amnesia. Saat itu gue mau ngehubungin lo berdua, tapi saat gue tahu kalo kedua orangtuanya meninggal, gue urungin niat gue. karna kalian Cuma akan bisa ngebuat dia tambah sakit.”

Nathan menatap zevana selama sekian detik. Meski ia tahu bahwa agni tinggal di rumah zevana, ia tidak tahu kalau kedua orangtua agni sudah meninggal. Dan meninggal karena kecelakaan itu. kecelakaan itu.. kecelakaan itu.. kata tersebut terus terngiang di telinganya. Ia semakin merasa bersalah.

  Badan nathan terhempas ke sandaran kursi. “dan itu karna gue,” ucapnya pelan, frustasi.

“semenjak itu, orangtua gue ngangkat dia jadi adik gue. awalnya, gue bingung harus bilang apa kalau dia nanya tentang masa lalunya. Serba salah. Kalo gue bilang tentang lo dan cakka, dia pasti marah besar sama lo. tapi kalo gue gak bilang, dia akan terus dihantui rasa penasaran. Akhir-akhir ini, gue perlahan mulai cerita ke dia tentang masa lalunya. Gue rasa dia udah cukup dewasa buat menyelesaikannya,” zevana berhenti sejenak.

“tapi lo belum cerita tentang gue kan?” tanya nathan khawatir. jauh di dalam hatinya, ia masih setengah berharap, bahwa zevana sudah bercerita tentangnya dan agni mengingatnya, dan merindukannya.

Zevana mengangguk. “belum sama sekali. gue gak tau mau cerita darimana dan ceritain apa. Terlalu banyak cerita tentang lo bertiga. Dan pas banget, saat agni lagi gencar-gencarnya nanyain gue, lo berdua hadir kembali. Jadi, gue gak perlu cerita kan? lo berdua aja yang balikin ingatannya.”

Nathan lega, karna dia sendiri belum menyiapkan mental untuk menerima tuduhan-tuduhan dari agni. ia tersenyum tipis. “cakka aja yang balikin ingatannya. Agni gak perlu ingat gue. dia cukup ingat cakka,” ucapnya lirih.

Kening zevana berkerut. “kenapa? bukannya lo sama dia..” nathan mengangkat telapak tangannya, membuat zevana menghentikan ucapannya yang disertai tatapan tidak mengerti.

“lupain aja. Lebih baik kalau dia lupa tentang gue. semuanya udah berubah zev. Dan gue gak yakin perasaan dia masih sama seperti dulu. terlebih cakka sekarang sering bersamanya dan mencoba mengembalikan ingatannya tentang mereka dulu. anggap saja gue orang luar. Seperti pertama kali gue kenal lo berdua,” jawab nathan yang mendekati kepasrahan.

 “pasrah amat? Yakin lo bisa ngeliat mereka berduaan? Gak panas tuh hati lo?” sindir zevana.

Tentu saja nathan tahu jawabannya. Dan dia tak perlu menjawab, gadis dihadapannya ini tahu betul semua isi hatinya.

“ohya nath, boleh gak gue panggil lo alvin aja? Gak biasa,” tanya zevana.

Nathan berhenti memutar-mutar sedotannya, kemudian menatap zevana menimbang-nimbang. Setelah berpikir beberapa lama, akhirnya ia mengangguk. “pengecualian buat lo. lo segalanya buat gue. yang penting lo seneng,” jawabnya.

Senyum zevana mengembang. Laki-laki di hadapannya ini memang paling bisa membuatnya senang. Tapi pada detik kemudian, zevana tampak serius kembali, dengan sorot mata penasaran. “vin, lo tau darimana agni tuh agni lo? kayaknya karna dia jadi adek angkat gue kali ya,” tebaknya tidak yakin.

Nathan menunduk dan menggeleng. “kemarin..”

>>FLASHBACK ON

Nathan yang ditunggu shilla di perpustakaan agak terburu-buru karna mencari buku tugasnya dan shilla. ketika tengah mencari buku shilla dalam tas, tak sengaja sikutnya menjatuhkan buku agni.

Nathan segera mengambilnya dan detik itu juga dia terpaku dengan nama pemilik buku itu. jemarinya kemudian meraba label nama itu. “agni, gue kangen sama lo,” gumamnya tidak sadar.

Nathan masih terus memandangi label nama dengan letter ‘A’ yang berbentuk bintang. Ia tersenyum. Ternyata benar ini agninya. Satu-satunya gadis yang ia ajari menulis letter ‘A’ dengan bentuk bintang. Bentuk yang sama dengannya.

Nathan tersadar dari lamunannya begitu seseorang menepuk bahunya. “nath!” seru orang itu.

Nathan berbalik dan sedikit mundur, karna jaraknya dengan orang itu sangat dekat. Sedikit terkejut dengan orang itu. kemudian cepat-cepat ia menyodorkan buku itu. “tadi buku lo jatuh,” katanya seraya mengembalikan ekspresi tenangnya.

Orang itu-agni-hanya membulatkan mulutnya dan mengangguk-angguk. Sebelum agni berbicara kembali, nathan sudah buru-buru mengambil bukunya serta buku shilla dan bergegas pergi dengan perasaan yang tak dapat diartikan.

>>FLASHBACK OFF

 Zevana mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar cerita nathan barusan. Sekiranya paham akan perasaan laki-laki di hadapannya ini. tentu ia tahu betapa bingungnya nathan dengan kondisi sekarang. Entah ia harus memperjuangkan atau menyerah.

“gue bingung zev,” kata nathan tiba-tiba. Ia menatap ke luar jendela. Sungguh, ia benar-benar dilanda kegalauan. Semua tindakannya menjadi serba salah. Dan sekarang, setelah ia tahu bahwa agni yang satu kelasnya ini adalah agninya, ia benar-benar bingung harus berbuat apa.

Zevana memperbaiki letak kacamatanya. Ditatapnya penuh perhatian salah satu orang yang paling berharga yang duduk tepat di hadapannya ini. “kalo lo mau jujur lo gak akan bingung gini vin. selalu ada kemungkinan kan? mungkin aja dia gak marah lagi sama lo kalo lo jujur. Daripada lo diem dan dilanda galau gini, mendingan lo bilang kan?” bujuknya.

Nathan jadi benar-benar bingung. Kalau ia jujur, agni otomatis akan menjauhinya dan marah padanya. Tapi kalau ia diam saja, sanggupkah ia melihat dan mendengar semuanya? Segala hal yang akan sangat menyakiti hatinya?

Zevana sangat heran dengan nathan, atau alvin, atau apalah. Belum sejam nathan berkata bahwa ia tidak ingin mengungkapkan keberadaannya pada agni, namun sekarang sudah bingung antara mengaku atau tidak. aneh sekali.

“vin, gini deh. sebenernya mau lo apa sih? lo mau dia tau atau enggak? Gak konsisten amat sih lo. baru tadi bilang mendingan cakka aja yang balikin ingatannya, tapi lo langsung bingung lagi begitu gue tanya. Mau lo apa?” tanya zevana tidak sabar. Sejak kapan alvin jadi aneh seperti ini sih?

nathan diam. Ia sedang berpikir. Iya enggak, iya enggak.. membingungkan juga. jauh dari lubuk hatinya, ingin sekali, tapi dalam kenyataannya, ia tidak berani. Tidak sanggup mendengar amarah agni padanya.

“alvin, jawab! Jangan diem aja!” tegur zevana kesal. membosankan sekali menunggu kepastian nathan.

“entahlah zev, gue juga bingung,” jawab nathan akhirnya.

Ingin rasanya nathan membanting semua barang di sekitarnya dan berteriak keras-keras. Ia sangat bingung, sangat. Kenyataan mendadak itu sangat membuatnya tak mengerti dengan dirinya sendiri. Terlalu banyak perubahan dalam dirinya. dan salah satunya seperti sekarang, ia tak bisa memutuskan sesuatu dengan cepat.

Bahkan seringkali ia bisa kehilangan kesabaran, saking kesal pada pemikirannya yang selalu negatif. Ia tak tahu sekarang harus memutuskan apa. Tentu saja ia tahu bahwa setiap orang harus memperjuangkan cintanya. Tapi kondisi sekarang sangat serba salah.

“nathan nathan, harus berapa kali sih gue bilang? Lo harus pertahanin apa yang lo punya, dan perjuangin apa yang lo mau! Masa gue harus ingetin terus sih?” Sosok deva tiba-tiba sudah muncul dan duduk di sebelahnya.

“tapi semuanya udah beda,” balasnya pelan.

Zevana yang daritadi sibuk bicara entah apa langsung terhenti dan bingung karna tiba-tiba nathan berbicara sendiri. “apa vin?” tanyanya.

nathan nampaknya tidak mendengar zevana. Sekarang yang terdengar olehnya hanya kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut deva. “apanya? lo, zevana, cakka, dan agni. akhirnya lo berempat bisa satu sekolah lagi kan sekarang? Kalo lo gak mau jujur ke agni, gue saranin lo mulai dari nol lagi.”

“dari nol?” nathan bahkan langsung terbayang betapa sulitnya itu. tidak akan. Dia tidak mau memulai dari nol lagi. 

Zevana semakin tidak mengerti dengan ucapan nathan barusan. Nathan rupanya tak mendengarkannya sama sekali. tiba-tiba dia jadi ingat kejadian tempo hari saat nathan berbicara sendiri.

Zevana menjentikkan jarinya di depan wajah nathan, setidaknya cukup membuat nathan sadar kembali. “vin!” panggilnya.

Nathan tersadar dan menatap zevana pada detik kemudian. “kita pulang sekarang,” katanya lalu bersiap pergi.

Zevana mengangguk dan mengikuti nathan. Dia benar-benar penasaran dengan alvinnya ini. kenapa jadi berubah begini? Sudah tak konsisten, sering melakukan sesuatu mendadak, lambat dalam mengambil keputusan, suka berbicara sendiri pula. Yang ia tahu, ia harus menyelidikinya segera.
***
Cakka amat terpesona dengan gadis di sebelahnya ini. masih sama. Senyumnya, tatapannya, tingkahnya, bahkan caranya berbicara. Entah harus berapa lama lagi ia menunggu dengan sabar, agar mendapatkan gadis pujaannya ini segera.

“agni agni, lo ngefans banget ya sama gue? sampe semua tentang gue lo tau?”

Agni mengangguk sambil tersenyum sipu. Sebenarnya memalukan juga mengaku bahwa ia benar-benar mengidolakan cakka bahkan tepat di depan cakka sendiri. Namun lidahnya itu sama sekali tak dapat diajak kompromi. Cakka terlalu menyenangkan untuk diajak bicara hingga kadang ia lupa membatasi pembicaraannya.

Melihat senyum agni cakka semakin gemas dan tidak sabar. Kalau bisa ia ingin menceritakan masa lalu mereka sekarang juga. tapi melihat potensi agni untuk mengingat alvin juga, ia mengurungkan niatnya. Ia ingin agni mengingatnya sendiri. Dengan itu ia tahu berapa besar arti dirinya bagi agni.

Cakka mengacak-acak rambut agni. senang sekali agni mengagumi dirinya, tahu semua tentangnya. Andaikan agni pun tahu perasaannya..

“cak, lo ternyata asik juga ya diajak ngobrol. Gue kirain lo mandang gue sebelah mata karna gue biasa aja,” ungkap agni.

Cakka tersenyum mendengarnya. “gak mungkin lah gue mandang lo sebelah mata. Lo kan tau semua tentang gue, harusnya lo tau dong kalo gue gak pernah milih-milih temen,” balas cakka. dan karna gue sayang sama lo ag, lanjutnya dalam hati.

“oh iya ya. hehe.. lupa,” kata agni sambil tertawa kecil. “cak, gue boleh nanya?” tanyanya serius.

“apa?” tanya cakka.

“kok gue gak pernah denger gosip atau berita kalo lo pacaran ya? lo pernah pacaran gak sih?” tanya agni blak-blakkan. “eh tapi jangan tersinggung atau apa. Kalo gak mau jawab juga gak papa kok. gue ngerti privasi,” sambung dan ralatnya cepat-cepat.

Tatapan cakka berubah menjadi sorotan kemalangan. Agni yang melihatnya langsung salah tingkah. Tidak enak bila menyinggung perasaan cakka. “cak, ya ampun, gue minta maaf kalo nyinggung perasaan lo. gak usah dijawab deh,” katanya salah tingkah.

Detik kemudian cakka menahan tawanya melihat kegugupan dan salah tingkah agni. agni yang baru sadar kalau tadi cakka hanya akting langsung manyun. Menyebalkan sekali. ia paling tidak suka dibohongi atau ditipu seperti ini.

Cakka yang melihat agni manyun baru ingat, kalau agni paling tidak suka dengan candaan seperti itu. “yah.. sori ag. Gue gak maksud kok. gue jawab deh ya,” bujuk cakka.

Agni mendengarkan baik-baik. penasaran dengan alasan cakka itu. “karena..”

“karena gue Cuma sayang sama seseorang. Dia segalanya bagi gue. gue Cuma mau dia, dan hanya dia. gak akan ada yang bisa menggantikan posisinya di hati gue,” jawab cakka sembari mengingat masa lalunya dengan agni, yang membuatnya menyukai agni.

Hanya terdengar suara ‘oh’ dari agni. ia mengangguk-angguk mengerti. Aneh. Bukankah harusnya ia jealous atau tidak suka saat mendengarnya? Saat tahu bahwa idolanya suka dengan gadis lain? Bukankah sebelumnya pun ia jealous? Mengapa ini tidak?

Cakka menepuk bahu agni. agni rupanya belum sadar dari kemelut pikirannya. “ag,” panggil cakka. “agni,” panggilnya kembali. “sayang!” panggilnya lebih keras dan cukup membuyarkan lamunan agni.

“hah?” agni tersadar dari lamunannya. Tunggu, tadi cakka memanggil dia apa? Sayang? apa ia salah dengar?

Cakka terkekeh melihatnya. Rupanya panggilan seperti itu masih berefek sampai sekarang. “lo kenapa bengong sih? gak usah meratapi nasib gitu gara-gara gue suka sama orang lain,” katanya sambil menepuk-nepuk bahu agni dengan penuh percaya diri.

Sebelah alis agni terangkat. “gak. Siapa juga yang suka sama lo. gue Cuma ngefans doang,” jawab agni setengah cuek.

Cakka mengerutkan keningnya. Hanya ngefans? Sedangkal itukah perasaan agni padanya? Tak adakah rasa suka atau perasaan yang lebih mendalam daripada itu?

“eh cak, lo hari ini gak ada acara? Daritadi nyantai amat,” tanya agni heran.

Cakka menatap agni dengan senyum yang terkembang di bibirnya. “gue free sebulan!” katanya sangat senang.

“free? Seneng amat,” celetuk agni heran.

Cakka mencubit kedua pipi agni gemas. “iya dong! Selama sebulan ini, gue mau dapetin cewek yang gue sayang itu! but, how poor i am, i’ve never meet her since seven years ago,” kata cakka sungguh-sungguh. Berharap dengan sisipan-sisipan seperti ini agni akan mengingat dirinya perlahan.

“tujuh tahun? Lama banget. pasti cewek itu kangen deh sama lo. buru deh dapetin dia. gue doain. Hehe,” kata agni.

Cakka tersenyum. “semoga,” doanya tanpa melepaskan pandangannya dari agni.
***
Ray tak henti-hentinya menabuhkan kedua stik drumnya pada drum set di depannya. Sudah sejam berlalu dan dia masih betah dalam posisi itu. ia tak habis pikir, mengapa septian tidak marah dan memutuskan ify? kenapa masih saja mempertahankan ify? apa septian sebegitu sayangnya pada ify?

Padahal waktu ify menjumpai septian hatinya sudah was-was. Bahkan selalu seperti itu. dan benar bukan, yang ia khawatirkan malah terjadi. Septian tetap mempertahankan ify. padahal ia sudah berharap septian akan melepas ify seperti mantan-mantan ify yang lain.

Lalu sekarang ia harus bagaimana? Membantu ify mencari ide agar bisa putus dengan septian? Atau dia diam saja?

Sebuah teriakan yang amat keras mengalahkan suara drum ray. ray menggosok-gosok telinganya dan sedikit mencibir. ketika teriakan itu kembali menggema di telinganya, senyumnya mengembang. Ia hafal sekali teriakan itu.

Ray berlari membuka pintu kamarnya. kemudian mengerem larinya karna ternyata orang yang berteriak itu sudah berdiri tepat di depan pintu kamarnya. “RAYNALD! Lama banget sih lo! lo lupa ya kalo hari ini lo mesti jemput gue di bandara?!” omel orang itu.

Ray menelan ludah. Ia benar-benar lupa dengan janjinya. “ya ampun! Gue lupa! Sori-sori!” katanya dengan mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf.

Orang itu melipat kedua tangannya dan melotot. Beruntung dia punya inisiatif untuk pulang sendiri, kalau tidak, entah sampai kapan ia harus menunggu ray.

“oliv, ayolah, jangan marah. Lo mau apa nanti gue kabulin deh, sebagai penebus kesalahan gue. ya?” rayunya pada orang di depannya-gadis yang dipanggil oliv-.

Oliv melirik ray dan tampak berpikir. Sesaat kemudian ia langsung mengangguk. “oke! Kalo gitu gue minta lo temenin gue selama seminggu ini! lo harus nurut sama gue!”

Ray langsung mengangguk saja. yang penting ia mendapatkan maaf dari sobatnya sejak lahir ke dunia ini. “masuk liv,” katanya segera mempersilakan oliv masuk kemudian menutup pintu.

Oliv langsung tiduran di tempat tidur ray, lelah di perjalanan. Ray hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah oliv yang sepertinya tidak peduli kalau dirinya laki-laki dan mereka hanya berdua di kamar dan oliv seenaknya tiduran di tempat tidurnya. Tak pernah berubah. Selalu seenaknya.

“akhirnya lo balik juga liv! Gimana student exchangenya disana? Enak?” tanya ray basa-basi.

“gak,” jawab oliv sambil memeluk guling dan hendak tidur. “gak ada lo gue bosen,” tambahnya.

“iyalah! Secara biasanya lo mantengin muka gue yang keren gini terus tiba-tiba student exchange dua bulan! Ya lo kangenlah ama gue,” balas ray pede.

“cowok disana jauh lebih keren daripada lo ray,” balas oliv sambil memutar kedua bola matanya. “gak ada lo berarti gak ada yang bisa gue marahin, gak ada yang nyeramahin gue juga. bosen!” keluhnya kesal.

Ray menatap oliv kesal. jadi selama ini dia hanya berguna untuk menceramahi dan dimarahi saja? menyebalkan! Sebelum ray membuka mulutnya untuk membalas perkataan oliv, oliv sudah menyela duluan, “gue mau tidur dulu. pinjem kamar lo. jangan main drum, jangan berisik, jangan macem-macem!”

“gak! Balik sana ke rumah lo! Cuma di sebelah juga. lo tuh cewek liv! Seenaknya banget lo tidur di kamar gue! lo bukan anak kecil lagi liv! Pindah sana!” usir ray panjang lebar sembari mengguncang-guncangkan lengan oliv.

‘IH! RAYNALD! UDAH GUE BILANG KAN JANGAN GANGGU! KELUAR SANA!” teriak oliv setelah mendudukkan dirinya.

Ray menutup kupingnya dan balas berteriak. “OLIVIA! INI KAMAR GUE! LO YANG KELUAR SANA!”

Mama ray yang sangat jelas mendengar teriakan keduanya segera naik ke atas. Kebiasaan sekali. pasti kalau ray dan oliv sudah bersama, keduanya akan saling adu mulut kemudian teriakan-teriakan akan terdengar sampai beberapa rumah di kanan-kiri mereka.

“ray! oliv! Jangan teriak-teriak! Ada apa sih?” tanya mama ray begitu masuk ke kamar ray dan melihat keduanya saling melotot dan menunjuk pintu.

Keduanya langsung menurunkan kedua tangannya. “ini ma! Masa oliv mau tidur di kamar ray?! rumah dia kan Cuma di sebelah! Mana dia ngusir ray segala lagi! yang punya kamar kan ray!” adu ray.

“tapi di rumah kamar oliv belum dibersihin sama mama tan,” kata oliv santai. Ia akrab sekali dengan mamanya ray. yakin sekali mamanya ray akan mengijinkannya.

“yaudahlah ray, kamu keluar dulu. kasian kan oliv? Ngalah dikit dong. Lagian udah biasa kan? kenapa dipermasalahin sih?” kata mama ray.

Oliv cengengesan dan mengangguk-angguk. Sementara ray cemberut dan segera membantah, “dia tidur aja di kamar tamu ma! Masih banyak kamar disini!”

Mama ray kemudian mendorong ray keluar bersamanya. “kamu tuh cerewet banget sih! ya mau-maunya dia lah! kalo dia mau di kamar kamu ya biarin aja!”

Ray heran sekali dengan mamanya dan mamanya oliv. Ada apa sih? kenapa mamanya selalu menuruti permintaan oliv? Dan kenapa mamanya oliv selalu menuruti permintaannya? Aneh sekali.
***
“OLIVIA! OLEH-OLEH BUAT GUE MANA?!!” teriak ray pada oliv yang masih tidur.

Oliv menggerutu kesal dan melempari ray dengan bantal. Sedang enak-enak tidur malah dibangunkan. Ia kemudian bangun dan berjalan dengan kesal ke sebuah tas selempang yang dibawanya tadi.

Ia merogoh-rogoh isi tas itu. setelah tangannya menemukan barang yang dicarinya, segera ia sodorkan pada ray. “nih! Makanya cari dulu! jangan langsung bangunin gue! terganggu kan tuh tidur gue!”

Ray cengengesan dan segera mengambil oleh-oleh untuknya. Tanpa basa-basi, ia langsung membukanya. Sebuah jam tangan hitam mengkilap bermerek. Dengan namanya yang terukir transparan di balik jam tangan itu.

“diliatin doang. Kenapa? gak suka? Ya balikin sini!” kata oliv lalu merebut jam tangan itu dari tangan ray.

Ray buru-buru menahan tangan oliv. “yah, kok gitu. Mau gue!”

“gue pakein sini,” oliv menarik tangan kanan ray dan memakaikan jam tangan pemberiannya.

ray mengacak-acak rambut oliv. “thanks,” katanya senang.

Oliv hanya mengangguk-angguk malas. “eh, lo udah punya cewek belum ray? kali-kali pa gue tinggal lo udah punya cewek trus gak kasihtau gue,” tanya oliv ingin tahu.

Hanya gelengan lemah yang ditunjukkan ray. entah kapan ia baru akan mendapatkan ify. ray duduk di tepi tempat tidurnya. pikirannya melayang kembali tentang ify, septian, dan mantan-mantannya ify.

Oliv yang merasakan perubahan mendadak suasana hati ray memilih untuk berbicara serius. Ia duduk di samping ray. “lo lagi suka sama cewek? Tapi dia gak suka sama lo?” tanya oliv pelan.

Ray menatap oliv. Kemudian ia mengulas senyum tipis di wajahnya. Ia merangkul oliv dan mengajaknya keluar. “gue lagi gak suka siapa-siapa. Gue Cuma bete aja sendirian mulu,” jawabnya, menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.

Sepertinya oliv percaya padanya. Oliv membulatkan mulutnya dan mengangguk-angguk. “makan yuk! Mama gue udah nyiapin makanan kesukaan lo tuh. heran gue, sayang banget dia sama lo. yang anaknya tuh gue apa elo sih,” cerocos ray mengalihkan arah pembicaraan.

Oliv mengikuti ray. “hehe.. gue penurut sih, makanya mama lo lebih sayang gue. emangnya elo! Cerewet gak ketulungan, suka nolak lagi!” Jitakan ray mendarat mulus di kening oliv. Seenaknya saja oliv bilang begitu!

  “oliv! Ray! ayo makan! mama udah siapin makanan kesukaan oliv!” seru mama ray.

Mama ray menatap ray dan oliv yang berjalan ke arahnya dengan asik bercanda. Ia tersenyum penuh arti. Senang rasanya melihat anak laki-laki semata wayangnya ini begitu asik bercanda dengan seorang gadis.
***
Ify sama sekali tidak punya ide lain agar ia bisa putus dengan septian. Dia tidak akan mau memutuskan septian tanpa alasan yang pas. Lebih baik bila septian yang memutuskannya. Dengan begitu ia tidak akan dirundung rasa bersalah.

Akhirnya ia sampai di sebuah rumah. Satu-satunya tempat yang ada di pikirannya bila sedang bermasalah. Satu-satunya tempat tinggal seseorang yang cukup berharga untuknya. Dimana ia bisa bercerita sepuasnya dan mencari solusi serta ketenangan. Yang jelas bukan rumahnya.

Ia menekan bel. Seseorang kemudian membuka pintu dan mempersilakannya masuk. “raynya ada bi?” tanya ify pada bibi yang membukakan pintu untuknya.

Bibi itu mengangguk. “iya non ify. ada di kamarnya.”

Setelah mengucapkan terima kasih, ify langsung menaiki tangga dan berjalan ke kamar ray. langkahnya terhenti begitu mendengar tawa ray dan seorang perempuan yang begitu ceria.

 Tanpa berpikir panjang, ify langsung membuka pintunya. Siapa sih gadis selain dirinya yang diperbolehkan mama ray untuk masuk ke kamar ray?

Oliv dan ray yang tengah asik tertawa menonton dvd langsung terhenti dan menatap ke arah pintu yang terbuka. melihat seorang gadis berada tepat di belakang pintu yang terbuka itu, kening oliv berkerut, menatap ray meminta jawaban.

Ray memanggil ify mendekat. Ify berjalan ke arahnya dan oliv kemudian menilai penampilan oliv dari atas sampai ke bawah. Dua kata yang ia dapatkan dari penampilan oliv. Biasa saja. tak cantik seperti model, tak feminin sepertinya, tak halus juga tampaknya.

Siapa gadis ini? tampaknya begitu akrab dengan ray. tapi sepengetahuannya, satu-satunya gadis yang akrab dengan ray hanyalah dirinya.

Ray yang nampaknya menyadari ketegangan yang tak terlihat di antara mereka segera buka suara. “fy, kenalin, ini olivia. Liv, kalo ini alyssa, panggil aja ify,” katanya buru-buru.

Tampaknya kedua gadis itu tak terlalu mendengarkan ray, mereka memikirkan hal lain tentang satu sama lain. “gue ceweknya ray!” seru keduanya dengan tangan menunjuk ray.

Ray tercengang. Sementara kedua gadis itu saling melotot tajam. Untuk sejenak, ray merasa seperti sedang mimpi. Ify mengakuinya sebagai pacarnya? Tapi tunggu, oliv juga?

Selagi ray sibuk dengan pikirannya, kedua gadis itu sudah bertengkar kecil dan hampir menjadi pertengkaran besar kalau ray tidak segera melerai. “STOP!!” teriak ray.

Cukup menghentikan keduanya. Ify menatap tajam ray. “ray! lo pilih gue apa dia?!” serunya tajam. Ray menelan ludah. Ia seperti sedang menunggu hukuman mati mendengar pertanyaan ify.

Mana mungkin ia bisa memilih? Dan saat itu, ia lebih memilih untuk bungkam. Ify yang salah mengartikan jawaban ray berkata pelan namun cukup mengiris hati ray,”kalo gitu, lo temenin dia aja terus! gak usah peduli sama gue! lo gak pernah nganggep gue!” seselesainya ify mengucapkan, ia segera pergi  dengan langkah terhentak penuh kekesalan.

Oliv tersenyum meremehkan. Entah bagaimana bisa, ia merasa senang mendengarnya. Seolah ia akan memiliki.. ray?

Wednesday, 6 October 2010 | By: Vina Arisandra

Unpredictable Love Part 3

PART III

Cakka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di pikirannya berkelebat semuanya. Kehilangan.. keputusasaan.. kehancuran.. saat itu.. kembali berputar di kepalanya.
                          
Semua gara-gara alvin. kesulitannya sekarang disebabkan oleh alvin. sudah cukup dia yang dipersulit, jangan sampai shilla dan sivia juga. Bila sampai terjadi sesuatu dengan mereka, dia tak akan segan-segan untuk membunuh alvin langsung dengan kedua tangannya sendiri.

Tak peduli dia akan dipenjara atau imagenya akan hancur nanti. Asalkan alvin mati, semuanya akan jauh lebih baik. kalau saja alvin tidak meminta sesuatu pada orang itu, pasti sekarang dia bisa tertawa bersama orang itu, menjalani hari-harinya dengan kebahagiaan, bukannya seperti sekarang.

Sampai sekarang, dia tidak habis pikir dengan sivia dan shilla. lebih memilih alvin yang tidak berguna itu dibandingkan dirinya. Meskipun dia mendengar kabar bahwa alvin sudah begitu terpuruk sekarang, dia tidak akan pernah percaya. Baginya, hanya dialah yang paling menderita, dan itu semua gara-gara alvin.
***
Mimpi buruk membuat tidur nathan tak tenang. Ia bergerak seolah didera ketakutan.

“semua salah lo! semua gara-gara lo! kalo lo gak minta dia dateng pasti dia gak akan mati!” tuduh cakka penuh emosi.

Alvin jatuh terduduk. Dia shock dengan berita barusan, tak mampu mengucapkan apapun. Semua ini salahnya. Bila ia tidak memaksa, pasti ini takkan terjadi.

Sekarang dia kehilangan satu-satunya semangatnya, satu-satunya pemicunya untuk maju, satu-satunya cahaya hidupnya. Semua ini dia lakukan hanya untuk orang itu. menunjukkan bahwa dia bisa, bahwa dia mempunyai masa depan yang cerah, bahwa dia pasti bisa membahagiakan orang itu. Namun segalanya sia-sia. Semuanya tak berarti lagi.

tak ada satupun air mata yang ia tumpahkan. Dia tahu dia tidak layak menangis, sebab ini semua benar salahnya. Dia pembunuh. Dia telah membunuh orang yang paling disayanginya. Walaupun secara tidak langsung.

“lo pembunuh vin! lo pembunuh! Lo udah bikin dia mati! Lo pembunuh! Gue benci sama lo!” teriak cakka frustasi.

Badan alvin gemetaran dan merinding. Ia didera ketakutan yang begitu hebat. Dengan kenyataan bahwa dia sudah membunuh orang yang disayanginya, bahwa dia juga sudah menghancurkan hidup cakka, dan dia sendiri tak memiliki apapun sekarang.

Dia sudah menghilangkan nyawa seseorang, yang harusnya masih bisa menjalani hidupnya, dan tidak mati sia-sia karenanya. Dia sudah hancur, tanpa ada satupun harapan yang dimilikinya sekarang.

Badan alvin bergetar hebat, sama sekali tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. semua rasa takut dan bersalah mengisi seluk-beluk hatinya. Sama sekali tak mengijinkan ketenangan untuk masuk ke dalamnya.

Nathan terbangun. Napasnya terengah-engah. Mimpi buruk yang tak pernah absen hadir dalam setiap tidurnya. Yang slalu memburunya dengan jutaan penyesalan akan perbuatannya di masa lalu.

“nath.. kalo lo mau tenang, lupain semuanya.. itu Cuma masa lalu lo. bagaimanapun juga lo harus bisa lupain nath. Lo gak mau kan dihantuin masa lalu lo terus?” kata deva yang tiba-tiba muncul.

Nathan tidak sepenuhnya mendengar ucapan deva barusan. Di matanya terus berkelebat potongan-potongan kenangan buruknya secara cepat, menyalahkan dirinya yang tak berguna ini.

“nath,” panggil deva.

Rasa kehilangan yang begitu besar menyesakkan rongga kosong dalam dadanya. Menyekat pernapasannya. “dev.. per..gi.. tinggalin.. gue.. please..” katanya terputus-putus. Deva mengangguk pelan dan menghilang dalam sekejap.

Nathan membayangkan hal-hal lain, yang sekiranya lebih baik, guna menepis bayangan-bayangan buruk tadi.
***
Rio membanting pintu kamarnya. marah dengan keputusan yang mendadak ini. ia menyingkirkan semua benda di atas mejanya dengan kasar. Meluapkan ketidakterimaannya.

Ray dan ify yang tengah asik berlatih vokal dikejutkan dengan bunyi-bunyian kencang dari kamar rio. mereka tak mengerti dengan rio, belum pernah rio seperti ini sebelumnya.

“kak! kak rio! buka kak!” seru ify kencang sambil mengetuk pintu kamar rio terus-menerus.

“diem fy! Gue butuh sendiri!” balas rio kencang. Kemarahan tampak dalam setiap kata yang terlontar darinya.

“kak! lo kenapa kak?” tanya ray khawatir.

Tak ada jawaban dari rio. “kak rio! kak! buka pintunya!” mohon ify khawatir.

Pintu terbuka. Untuk kedua kalinya ify dan ray dikejutkan dengan rio malam ini. tampak sekali rio memiliki masalah berat. bila biasanya rio sangat rapi dalam keadaan apapun, kini berantakan sekali. pandangannya sayu, namun rautnya penuh emosi yang tak terjelaskan.

“lo kenapa kak?” tanya ify yang tak bisa melepaskan pandangannya dari kakaknya ini.

“udah liatnya? Balik sana! Gue mau sendiri dulu!” usirnya halus sambil mengibaskan tangannya.

Ify menerobos rio dan memaksa masuk ke kamar rio walaupun rio sudah melarang dan menahannya. Menggelengkan kepala begitu melihat kamar rio yang sudah seperti kapal pecah. Barang-barang yang tadinya ada di atas meja, kini berserakan di lantai. Matanya tertuju pada suatu benda. Satu stel seragam basket berwarna biru tua yang bertuliskan ‘RioNi’ di bagian belakangnya yang biasa di pakai kakaknya kalau bermain basket dengan agni, dan biasa terlihat menggantung di dinding sebelah cermin, kini malah tergeletak di lantai.

ify yang paham dengan masalah kakaknya langsung angkat bicara. “kak, lo bertengkar sama agni?” tanyanya sembari membereskan barang-barang rio.

“gak,” jawab rio singkat. Ia bersandar di dinding, menengadahkan kepalanya, matanya terpejam, kemudian menghela napas berat.

Ray menepuk pundak rio. sepertinya dia tahu apa masalahnya dari gelagat rio sendiri.

“gue putus sama dia,” lanjutnya getir.

Ify dan ray menatap rio, menyiratkan keibaan. “kenapa?” akhirnya ray bertanya setelah memilih diam daritadi.

Rio membuka matanya dan mengangkat bahu. “entahlah. Mungkin dia udah bosen kali sama gue. atau dia suka sama cowok lain,” tebaknya asal.

“gak mungkin. Agni yang gue kenal gak mungkin suka sama cowok lain saat dia masih punya cowok. Kalo soal bosen enggaknya, gue juga gak tau,” jawab ray.

“kak, lo sayang banget ya sama agni?” tanya ify setelah selesai beres-beres.

Rio tersenyum tipis. “lo udah tau jawabannya kan fy?”

“sayang banget,” jawab ray tepat. Rio hanya menganggukkan kepalanya pelan. “dulu, lo usaha mati-matian buat dapetin perhatiannya agni. dari lo yang mau kenalan sama dia, dengan cara yang cukup basi menurut gue. lo pura-pura nyari ify di rumahnya, padahal ify ada di rumah, terus lo bilang lo bakal nungguin ify. and then, lo berhasil kenalan sama dia, meskipun lo berdua canggung banget waktu itu. sekitar sejam-an lo disana, lo pura-pura nerima sms dari ify dan langsung pulang. Ckck, aneh lo,” lanjut ray yang masih ingat jelas dengan reaksi rio setelah berhasil kenalan dengan agni.

“setelah lo berhasil kenalan dengan agni, lo mulai ngedeketin dia dengan cara-cara lo yang aneh. Tapi pada akhirnya lo jadian juga sama dia. gue masih inget reaksi lo waktu itu kak, lo seneng banget, sampe-sampe lo gak abis-abisnya senyum tiap hari,” kenang ify.

“tapi sekarang?” tanya rio masih tidak percaya.

Hening. Tak ada yang menjawab, atau lebih tepatnya, tidak ada yang berani menjawab. Takut menambah sakit hati rio. “hancur. Mulai hari ini gue gak akan bisa liat agni lagi. dia pasti ngehindar dari gue. padahal gue masih sayang banget sama dia,” ungkapnya jujur.

“kak, nanti gue sama ray tanyain ke dia deh kenapa mutusin lo,” janji ify.

rio hanya menganggukkan kepalanya, menantikan alasan agni mengakhiri hubungan mereka.
***
Zevana mengambil selembar foto sambil tersenyum. Foto dengan gambar dua orang anak di tengahnya. Seorang anak laki-laki yang sedang merangkul seorang anak perempuan dan tertawa bersama.

Zevana jadi teringat satu saat. saat dia berulangtahun yang ke 8 dan cakka memberikannya sebuah kado istimewa, yang masih ia simpan sampai sekarang. Entah angin darimana, akhir-akhir ini dia sering membongkar gudang untuk mencari semua kenangannya dengan cakka dan alvin.

Zevana baru akan memasukkan foto tadi dalam photoframe yang ada di atas meja belajarnya, ia teringat dengan agni. segera ia masukkan foto barusan ke dalam kotaknya. Bahaya besar bila agni melihatnya.

Ohya, mengingat tentang agni, keraguan muncul kembali dalam hatinya. Haruskah agni tahu semuanya? Tapi, apa sanggup agni menerimanya? Apakah dia sendiri sanggup menerimanya? Setelah ia dapat berjumpa kembali dengan cakka, setelah sekian tahun tak bertemu?

Zevana duduk di atas meja belajarnya. Masalah agni, masalahnya juga. tak ingin melihat agni sedih dan kecewa, namun juga tak ingin dirinya yang mengalami.

Terdengar ketukan dari pintu. “ze,” panggil agni.

Zevana menghela napas pelan. “masuk,” jawab zevana.

Agni masuk ke dalam dan menghampiri zevana. Sekilas ia melihat kotak gold yang ada di atas meja zevana namun langsung disembunyikan zevana. Ia menatap zevana dengan pandangan sedikit menyelidik.

“kenapa ag?” tanya zevana memecah kecurigaan agni.

Agni segera mengubah raut wajahnya, namun berkata dalam hati bahwa ia akan mencari tahu tentang kotak itu. “ini,” agni membuka tangannya yang dikepal.

Zevana melihat isinya. Dua liontin dengan warna hitam mengkilap, dengan ukiran silver dan gold di tengahnya. Yang satu dengan gambar silver star, dan yang satu dengan gold crescent moon. Zevana tersenyum tipis melihatnya.

Dia juga memiliki yang sama, namun bukan liontin, melainkan anting, dengan sepasang huruf AZ dan CZ. “terus?” tanya zevana setelah puas memandangi.

Agni mengerutkan keningnya. “gimana bukanya?” tanyanya.

Zevana mengedikkan bahunya. “ya buka aja. Emangnya gak bisa?” tanyanya balik.

“gak. Lo gak liat apa di bawahnya ada lubang kuncinya? Gimana gue bukanya?!” tanya agni tidak sabaran.

“ya lo taro kuncinya dimana?” balas zeva sabar.

Agni berdecak. “liontin ini, udah ada sejak gue amnesia. Berarti ini menyangkut masa lalu gue kan? lo pasti tau dimana kuncinya! Ayolah zevana! Gue penasaran sama isinya! Feeling gue bilang, ada sesuatu yang penting banget di isinya! Yang menyangkut kebahagiaan gue! ayolah ze!” desak agni.

“gue gak punya kuncinya,” jawab zevana singkat.

“bohong!”

“kalo gak percaya, lo boleh periksa kamar gue. gak akan ada,” kata zevana meyakinkan.

“kalo gitu gue mau nanya. Bintang sama bulan sabit ini maksudnya apa?” tanyanya tidak mengerti.

“inisial nama,” jawab zevana.

Agni berpikir sejenak. Inisial? Inisial siapakah? “inisial?” ulangnya.

Zevana mengangguk. Setengah hati berharap agni akan segera menemukan kuncinya, dan setengahnya lagi berharap agni tidak akan pernah menemukannya. Biarkan saja rasa penasaran agni terkubur dalam pencariannya. Tapi itu terlalu jahat. Bagaimanapun juga agni harus tahu, dan dirinya harus bersiap tersingkirkan.

Agni terus bertanya tentang liontin itu. namun zevana selalu menyembunyikannya dan memberinya informasi sangat sedikit. Rasa kekesalan terhadap zevana yang sudah cukup banyak kini malah bertambah banyak. Mengesalkan sekali.
***
Sivia dan shilla membujuk nathan mengikuti kelas musical-teathre. “nathan! Please! Ikut ya?” bujuk sivia yang mulai putus asa. Sejak tadi nathan tidak menggubrisnya sama sekali.

“nath, udah terlanjur di daftarin. Lo harus ikut. Ya? demi gue deh,” bujuk shilla sambil tersenyum manis.

Nathan menatap keduanya bergantian, kemudian mengalihkan pandangannya ke pojok kelas. Hanya ada agni yang ada di kelasnya sekarang, selain dirinya dan kedua cewek ini tentunya. “gak,” tolaknya.

“yah.. nathan, mau sampe kapan lo ngehindar dari musik? Udahlah! Hidup lo tuh gak bisa jauh dari musik, mau bagaimanapun lo ngehindar!” kata sivia agak keras.

Agni yang sedang mengambil gitar dari tempat duduknya, spontan menoleh ke arah mereka. tak sengaja, tatapan nathan dan agni bertemu. Meskipun nathan memakai kacamata yang cukup menghalangi matanya, agni dapat melihat dengan jelas mata nathan saat itu. menyiratkan suatu perasaan.

Nathan tertegun menatap kedua mata agni langsung. Selama bersekolah disana, belum pernah sekalipun dia berbicara ataupun menatap agni. dan sekarang.. rasanya.. tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Untuk sesaat keduanya terdiam dan hanya bertatapan. “helloo,” kata sivia memecah keheningan dengan mengibaskan tangannya di depan wajah nathan.

Keduanya tersadar. Ekspresi wajah agni tampak biasa saja, meskipun bila diperhatikan, ia terlihat menyembunyikan segudang rasa penasaran. Sedangkan nathan, meski ekspresinya tetap terlihat datar, dibalik kacamatanya ia terus memperhatikan gesture agni. yang tanpa sadar, sedikit banyak mengisi celah-celah kosong di hatinya.

“tadi lo kenapa teriak siv?” tanya agni.

“oh, itu.. dia gak mau ikut kelas musical-teathre, padahal namanya udah terdaftar,” jawab sivia kesal, mengarahkan dagunya pada nathan.

Agni menganggukkan kepalanya mengerti. “emang kenapa lo gak mau?” tanyanya pada nathan.

“gue benci musik,” jawabnya dingin.

“why?” tanya agni heran. tak ada seorangpun di dunia ini yang benci musik. Pasti ada sesuatu. Dan sudah kewajibannya sebagai ketua music untuk merekrut sebanyak-banyaknya murid agar mengikuti kelas musical-teathre.

“lo gak perlu tau,” balas nathan.

Agni tersenyum. “kalo gitu, ikut gue. gue jamin lo bakal ikut kelasnya setelah lo ikut gue. kalo lo gak suka nanti, lo boleh resign dari sana,” katanya.

Melihat tak ada reaksi apapun dari nathan, agni langsung menarik tangan nathan keluar kelas dan menyeret nathan ke kelas musical-teathre.

Shilla dan sivia dibuat tak percaya oleh sikap nathan barusan. Berbeda sekali dengan nathan yang biasanya. Shilla saja tak bisa membuat nathan langsung menjawab setelah ditanya, agni malah bisa. Lalu nathan tidak pernah betah bertatapan dengan orang selama tiga tahun terakhir. Sungguh-sungguh kejadian langka.
***
Agni dan nathan sampai di musical-teathre room. Agni mempersilakan nathan duduk di bangku atas. “lo duduk disini. hari ini pembukaan tahun ajaran baru buat kelas ini. lo jangan balik dulu sebelum liat semuanya tampil. Tunggu gue balik kesini,” pesannya.

“gak penting,” komentar nathan, namun tak beranjak dari tempatnya sedikitpun.

Agni tersenyum melihat orang yang dipaksanya ini tetap menurut. Ia berlari menuruni tangga ke backstage.

“nathan, nathan, sekali lo terjerat dalam lingkaran musik, lo gak akan bisa lepas,” gumamnya dengan senyuman.

Nathan melayangkan pandangan ke seisi ruangan. Badannya merinding, melihat lautan manusia di depannya. Rasanya ingin segera melangkahkan kaki keluar dari tempatnya sekarang. Tapi entah apa yang merasukinya, membuat kakinya tak mau bergerak sedikitpun.

Lampu meredup dan mati, mengheningkan riuh rendah obrolan para murid. Satu-satunya lampu menyoroti seseorang yang tengah duduk dan memangku gitar di tengah stage.

Agni. dengan atasan putih dan rok coklat muda diatas lutut. Memangku gitar dengan mata terpejam. Perlahan, jari-jarinya memetik senar gitar dan setelah menghela napas pelan, ia mulai menyenandungkan sebuah lagu. Teristimewa untuk orang yang telah dilupakannya dan slalu menguatkannya di kala drop.

Pernah ada rasa cinta antara kita
kini tinggal kenangan
ingin kulupakan semua tentang dirimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh bintangku

detak jantung Nathan seakan berhenti saat itu juga. Telinganya yang peka musik tak bisa memungkiri kalau suara inilah yang selama ini dirindukannya.

jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh kekasih

Nathan memberanikan diri menatap gadis yang tengah bernyanyi disana. Ia dapat merasakan dengan jelas, jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya.

jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh kekasih

pernah ada rasa cinta antara kita
kini tinggal kenangan
ingin kulupakan semua tentang dirimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh bintangku

setelah mendengar sekian lama, nathan menggeleng pelan. Tidak mungkin.

jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh kekasih

selesai. Agni membuka matanya. Semua yang ada disana memberikan standing ovation untuknya. Ia hanya membalas dengan seulas senyuman. Segera ia membawa gitarnya kembali ke backstage, sementara zevana mengambil alih stage.

Nathan segera menepis pikirannya. Sepertinya benar apa yang dikatakan orang lain, dia terlalu banyak berkhayal. Pasti yang didengarnya barusan hanya khayalannya. Mungkin karna agni sedikit mirip dengan orang yang diinginkannya selama ini.

Sebuah tepukan pelan mendarat di bahu nathan. “gimana? Berminat ikut?” tanya agni yang ternyata sudah berdiri di samping nathan dengan napas sedikit terengah.

nathan berdiri dan meninggalkan agni, meski ketika berpapasan ia sedikit melirik ke arah agni yang terus menatapnya. Agni menggelengkan kepala pelan melihat nathan tidak menghiraukannya sama sekali.

dua pasang mata yang memperhatikan keduanya daritadi mencoba menepis rasa cemburu yang menghampiri mereka. satu diantaranya, menghela napas berat melihat agni yang sulit sekali digapainya kembali, dan satu diantaranya, memikirkan cara agar agni dapat kembali padanya, dengan satu saingan di hadapannya.

“ehm,” dehaman seseorang membuyarkan lamunan agni mengenai sikap nathan barusan.

Agni menoleh ke sampingnya, sedikit terkejut mendapati cakkalah yang menegurnya. “err, kenapa cak?” tanyanya salting.

“biasa aja lagi, gak usah salting gitu napa?” sindirnya bercanda.

Agni hanya tersenyum canggung, dalam hati merutuki dirinya akan sikapnya tadi. “sori. Gue gak biasa ngomong sama artis terkenal kayak lo cak,” katanya jujur.

Cakka tersenyum kecil. Dalam hati, agni melonjak-lonjak kegirangan, melihat senyum idolanya untuknya! “gimana sih, katanya mau jadi singer, gak boleh canggung gitu dong ngomongnya,” ledeknya.

“lo tau darimana gue mau jadi singer?” selidik agni ingin tahu. cakka baru sekali bertemu dengannya, namun bagaimana bisa cakka tahu cita-citanya?

Cakka menelan ludah. Memaki dirinya dalam hati, bagaimana bisa dia keceplosan bicara? Bodoh sekali. “emm.. tau dari.. vana,” katanya.

Agni manggut-manggut mengerti, meskipun beberapa pertanyaan muncul di hatinya. “lo akrab ya sama zeva?” tanya agni.

Cakka mengangguk. “akrab banget. tapi gue udah tujuh tahun gak ketemu dia,” pancing cakka.

“tujuh tahun?” ulang agni. ia berpikir keras. Ada sesuatu sepertinya yang berhubungan dengan 7 tahun lalu. Tapi apa? Percuma. Tak ada satu bayangan pun mengenai masa lalunya.

“ya, tujuh tahun lalu. Lo gak tau?” tanya cakka penasaran. Agni menggeleng pelan.

“oh. Udahlah, never mind. By the way, tadi nyanyi lo keren banget loh. Gue ampe merinding dengernya. Dalem tuh kayaknya. Buat siapa? Cowok lo ya?” puji cakka.

“bukan,” jawab agni singkat.

“kalo gue boleh tau, buat siapa ya?” tanya cakka berharap.

Agni menatap cakka sedikit aneh. Mengapa cakka begitu penasaran dengan dirinya? Atau hanya dirinya yang terlalu geer saja? “buat seseorang yang gue gak tau gimana rupanya, tapi dia selalu gue kangenin dan gue sayangin. Yang selalu hadir di setiap gue lagi sedih dan marah. Dia selalu ngehibur gue,” jawab agni yang tanpa sadar malah bercerita banyak pada cakka.

Cakka terperangah oleh cerita agni barusan. Hatinya sedikit terhibur melihat agni berbicara banyak padanya, namun cerita agni barusan mengusik hatinya. “kok lo gak tau rupanya? Jangan-jangan hantu lagi!” canda cakka.

Agni tertawa kecil dan meninju bahu cakka pelan. “ya enggaklah! Serem amat. Ohya cak, gue baru kali ini loh liat lo secerah gini mukanya. Padahal setiap gue liat lo show, muka lo gak secerah beberapa hari ini. wah, pasti lo baru jadian ya? sama oik mungkin?” tebak agni asal.

Agni bertanya-tanya dalam hatinya. Ada apa ini? kenapa dirinya nyaman sekali berbicara dengan cakka? dan mengapa dirinya mudah akrab dengan cakka? belum lagi detakkan jantungnya yang berpacu cepat. sungguh aneh.
***
Ify memasang raut wajah muram dan penuh rasa bersalah ketika menekan bel apartemen septian. Tak perlu menunggu lama, septian membuka pintu dan menyuruhnya masuk. Ia tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, “sept,” panggil ify pelan.

Septian memalingkan mukanya, “masuk,” suruhnya, sedikit jutek.

Ify mengangguk dan masuk ke dalam. Septian langsung menutup pintu begitu ify memanggilnya kembali. “apa?” tanyanya.

“sept, kamu udah liat gosipnya? Aku Cuma mau kasih penjelasan sept, kalo aku sama ray itu Cuma temenan, gak lebih. Kamu gak marah kan?” kata ify dengan nada bersalah.

Septian menatap ify lekat-lekat. Seluruh kalangan entertainment pun tahu bahwa ify berteman dengan ray, dan sudah berkali-kali ify putus hubungan karna kedekatannya dengan ray. namun ia tahu, ify seorang aktris yang hebat, yang dengan mudahnya mengubah mimik dan nada bicara. Sulit sekali menemukan celah kepura-puraan darinya. Septian sendiri tak ingin tertipu oleh ify.

“gak. Aku tau kok kamu sama ray Cuma temenan,” katanya sambil tersenyum.

Ify menyembunyikan keterkejutannya. Baru kali ini, ia dimaafkan dalam hal seperti ini, dan septian sama sekali tidak marah. Padahal biasanya setelah muncul gosip seperti ini, pacarnya akan segera memutuskannya. Aneh.

Ify membalas senyuman septian. “thanks. Kamu pengertian banget,” katanya.

Septian menepuk bahu ify. “iya dong. Aku kan sayang sama kamu. Aku akan slalu nyoba ngertiin kamu,” balas septian.

Septian akan terus mempertahankan ify sebisanya. Karna ia tahu, ify akan mencoba segala cara, hingga ada kata putus yang terlontar dari bibirnya.
***
“agni!” sebuah suara memecah keheningan di koridor. Yang dipanggil langsung menghentikan langkahnya dan berbalik.

“apa?” tanya agni begitu ray-yang memanggilnya-tiba di depannya.

ray menarik napasnya, kemudian menghembuskannya pelan. “lo putus sama kak rio?” tanyanya pelan.

Ekspresi agni tidak berubah sedikitpun, seolah tidak mendengar sesuatu yang menyakitkan atau mengguncang perasaan. “putus?” ulangnya. Ray mengangguk.  

“siapa yang bilang gue putus sama rio?” tanyanya. Agni melanjutkan kembali langkahnya.

Ray menyamai langkah agni. heran dengan agni yang tak berekspresi sesuatu yang layaknya orang baru putus. Tidak seperti ify tepatnya. “dari kak rio sendiri,” jawab ray.

“oh. Kalo gitu, berarti kita udah putus. Padahal gue Cuma bilang break.”

“ni! Lo cuek amat sih! lo gak sedih apa putus sama kak rio? dia sampe hancur begitu?” tanya ray heran.

“gak, gue gak sedih ataupun ngerasain apapun. gue sendiri gak tau kenapa. hancur? Kayaknya gak segitu parahnya deh. nanti juga dia nemuin yang lebih baik dari gue,” kata agni.

“terserah lo deh. tapi lo putus sama dia kenapa?” tanya ray penasaran.

Agni menghela napas. “gue ngerasa gue mulai gak srek aja sama dia. lama-lama gue jadi ilfeel sama dia. perhatiannya itu ray, too over. Gue kan gak mau dikekang sama dia,” jawab agni jujur.

Ray manggut-manggut paham. “ohya ag, kemaren gue liat lo ngobrol sama cakka, kayaknya akrab banget. seneng nih ya bisa ngobrol panjang lebar sama idola tercinta lo itu!” goda ray, menyenggol lengan agni.

Pipi agni memerah. “apa sih,” katanya sambil tersenyum kecil.

Ray tertawa kecil melihat agni yang tersipu malu. Baru kali ini dia melihatnya. “agni agni,” katanya sambil menggelengkan kepalanya, “enak dong ya. kalo jadian sama cakka, traktir gue dong ya,” ledeknya.

Agni menjawil lengan ray. “aww!” jerit ray, mengusap lengannya. “rese lo ag!” katanya kesal.

Agni tertawa kecil. “ya elah ray, Cuma gitu aja marah. Udahlah, gue duluan ya!” pamitnya dan buru-buru pergi.
***
Obrolan shilla dengan beberapa artis yang lain terhenti begitu ada suara yang memanggilnya. “ashilla.”

Shilla menoleh ke sampingnya. “gabriel?” ucapnya pelan.

Gabriel mengangguk. “boleh gue bicara sebentar sama lo?”

Shilla mengangguk dan mengikuti gabriel ke sudut aula. “mau bicara apa?” tanyanya.

Gabriel membetulkan letak kacamatanya. “lo ada hubungan apa sama nathan? Dia alvin kan? alvin jonathan sindunata? Sepupu lo?” tanyanya beruntun.

Shilla tidak menjawab. “terus, bagaimana bisa dia muncul kembali? Setelah 5 tahun dia menghilang tanpa jejak dari dunia ini? apa yang membuat dia kembali?” lanjut gabriel lagi.

“gabriel, lo bisa cari bahan gosip lain gak? Selain orang di sekitar gue?” kata shilla risih.

 Gabriel sudah biasa menghadapi situasi ini, disaat sumber jawabannya tak mau memberikan informasi. “hei, ashilla! Lo gak mikir apa? Kalo alvin kembali lagi, pasti dunia entertainment bakal gempar! Dan itu akan jadi headline di semua media! Sang legend!” gabriel menerawang dan membayangkan, betapa akan hebohnya berita ini bila tersebar.

“gabriel! Alvin gak ada! Legend apa pula itu! gak ada!” bantah shilla kesal. meski dia sendiri ikut terbawa dalam khayalan gabriel barusan. Betapa bahagianya keluarga besarnya, bila nathan mau kembali menjadi alvin.

“oke, kalo lo gak mau kasihtau, gue masih punya cara lain buat cari bukti. Jangan kaget kalo nanti lo bakal liat berita itu jadi headline di semua media massa,” katanya setengah menyeringai.

“cari bukti apa? Alvin dan nathan berbeda. Bertolak belakang malah. Lo gak akan pernah menemukan buktinya. Karna nyatanya mereka bukan orang yang sama. Dan semua orang hanya tahu kalau alvin sudah meninggal,” remeh shilla.

Gabriel melipat kedua tangannya. “yakin? Kalo gue berhasil buktiin, gimana tuh?”

“gak akan gue biarin,” gumam shilla amat pelan. “soal headline, gue Cuma mau bilang, lo gak punya perasaan apa? Seenaknya lo ngegosipin orang. Gue Cuma gak mau salah satu keluarga gue jadi korban lo,” pesannya lalu hendak meninggalkan gabriel.

Baru selangkah dia berjalan, shilla berbalik kembali. “one more, don’t call me ashilla. Just shilla,” peringatnya lalu melanjutkan berjalan.

Ashilla, hanya seseorang yang boleh memanggilnya seperti itu. panggilan sayang orang itu pada dirinya. tidak boleh ada yang memanggilnya ashilla selain orang itu.

Gabriel menggelengkan kepalanya. “ashilla ashilla, semakin lo membantah pernyataan gue, semakin memperkuat pernyataan gue. gue Cuma berniat baik, mengembalikan pangeran yang hilang dari dunia musik. Biarkan alvin kembali shill, biarkan dia jalanin kehidupannya sendiri, yang penuh dengan lika-liku musik.”
***
Rio memetik senar gitarnya asal-asalan, sekedar mengisi waktu luangnya. Biasanya ia akan menghabiskan waktu bersama agni. namun sekarang, sudah tak ada lagi agni yang menemaninya dan menghilangkan jenuhnya. Dia sendirian.

Rio memejamkan matanya. Hatinya hampa. Kosong tanpa agni yang mengisinya. Dia merindukan agni, sangat merindukannya. Namun apa dayanya, agni sendiri yang sudah jenuh padanya, dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada agni.

aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
aku ingin menjadi sesuatu yg mungkin bisa kau rindu
karena langkah merapuh tanpa dirimu
oh karena hati tlah letih

andaikan, dia bisa menjadi sesuatu yang berharga untuk agni, seperti agni yang begitu berharga di matanya. Andaikan..

aku ingin menjadi sesuatu yg selalu bisa kau sentuh
aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
tanpamu sepinya waktu merantai hati
oh bayangmu seakan-akan

andaikan agni tahu betapa besar rasa cintanya pada agni, seberapa tulus itu, ia yakin, agni tak akan berpisah darinya. Andaikan..

kau seperti nyanyian dalam hatiku
yg memanggil rinduku padamu
seperti udara yg kuhela kau selalu ada

agnilah yang selama beberapa bulan ini mengisi pikirannya, mengisi hatinya, yang selalu dirindukannya, yang selalu dipikirkannya.

hanya dirimu yg bisa membuatku tenang
tanpa dirimu aku merasa hilang
dan sepi, dan sepi

kehilangan. Ia telah kehilangan agni. Tanpa alasan, tanpa dasar.

kau seperti nyanyian dalam hatiku
yg memanggil rinduku padamu
seperti udara yg kuhela kau selalu ada

kau seperti nyanyian dalam hatiku
yg memanggil rinduku padamu
seperti udara yg kuhela kau selalu ada

selalu ada, kau selalu ada
selalu ada, kau selalu ada

meski begitu, ia akan mencoba bertahan, dan sebisa mungkin membuat agni kembali padanya. Atau setidaknya.. agni tahu betapa hancur dan perihnya hatinya.

“kak rio, gue udah tanya sama agni. dia bilang, dia gak suka sama perhatian lo yang over. Rasa buat lo semakin hilang,” jujur, ray merasa bersalah mengatakan ini. namun riolah yang meminta.

Rio termenung. “over? Apa sih yang over?” katanya tidak puas.

“perhatian lo kak. tiap hari lo sama dia terus. lo datengin rumahnya tiap hari, lo selalu nanyain dia kemana dia mau pergi, sama siapa dia mau jalan. Kadang lo malah gak ngijinin dia buat jalan sama temennya. Padahal lo tau sendiri kak, kalo temennya itu banyakkan cowok,” kata ray. sebenarnya, dia baru saja menyampaikan unek-uneknya dan ify. tapi inilah yang memang dirasakan agni. dan tidak menutup kemungkinan, masih banyak lagi sikap-sikap rio yang kurang menyenangkan.

“terus? kenapa? biasa aja kali,” kata rio heran.

Ray berdecak. “singkatnya, lo terlalu ngekang dia kak!” balasnya kesal.

Rio mengerutkan keningnya. “ngekang? Gue gak ngekang dia kok! Wajar kan kalo gue gak suka dia jalan sama cowok lain? Kalo gue pengen tau kemana dia pergi? Kalo gue datengin rumahnya? Aneh lo!”

“kak! agni tuh masih sma! Catet! SMA! Dan lo udah kuliah! KULIAH! Jenjang usia lo berdua cukup jauh juga kak! dan lo gak ngerti apa yang dia mau! Lo gak bisa kayak begitu sama agni, dia butuh kebebasan kak! kalo lo sama yang seusia kuliahan sih gak papa! Emang mereka udah butuh cowok yang perhatian banget! perhatian lo tuh kurang baik buat agni kak. agni kan masih muda banget, dia butuh perhatian yang biasa aja, jangan berlebihan begitu,” jelas ray panjang lebar.

Rio terdiam. Di kepalanya berputar penjelasan, atau lebih tepatnya teguran ray. “semoga lo sadar kak,” kata ray pelan.
***
Zevana yang tengah membaca sebuah novel cukup dikejutkan dengan beberapa member baru yang bergabung dengan kelas sastra. Tiga orang yang merupakan murid MT juga. zevana melambaikan tangannya dan tersenyum, meminta ketiganya mendekat.

Hanya cakka dan shilla yang berjalan ke arahnya, sedangkan nathan langsung menyelinap di antara rak-rak buku, mencari sesuatu. “hai! Lo bertiga gabung di kelas ini juga?” tanya zevana bersemangat.

“seperti yang lo liat,” jawab cakka dengan tersenyum.

“eh zev, gue nyari buku dulu ya,” pamit shilla, bergegas mencari sebuah novel yang sekiranya menarik untuk dibaca.

Cakka mengambil tempat duduk di sebelah zevana, cukup menyita perhatian anggota lain. Cakka, yang baru masuk sekolah ini, namun terlihat dekat dengan kakak-beradik zevana-agni, seolah sudah lama dekat dengan keduanya.

Zevana menjulurkan kepalanya, mencari-cari nathan. Dia betul-betul penasaran dengan nathan yang jarang bicara dan tidak bersosialisasi sama sekali. “nathan mana ya cak?” tanya zevana heran.

Cakka memalingkan wajahnya, tangannya sudah mengepal kuat. Selalu nathan. Selalu alvin. mengapa semua hanya memperhatikan alvin? tak adakah yang menganggap dirinya? Hanya rasa iri, yang selalu mengisi hatinya, dan rasa benci, yang terus berkembang dalam dirinya. setia menemaninya menjalani hari-harinya.

tak pernah berubah. Selalu saja. sejak dulu. alvin selalu dibanggakan, selalu diprioritaskan, selalu diperhatikan. Pernahkah, dirinya yang jadi nomor satu? Pernahkah, dirinya yang dibanggakan?

“cak!” tegur zevana, membuyarkan lamunan cakka.

“hmm,” balas cakka malas.

“lo liat gak nathan dimana? Penasaran gue sama tu anak,” kata zevana lagi.

“di belakang lo,” jawab cakka tanpa melihat ke arah yang disebutnya.

Zevana langsung menoleh ke belakangnya, menelan ludah begitu melihat ekspresi data nathan. “eh, nathan.. gue cariin juga! sini deh, gue mau ngobrol bentar sama lo,” kata zevana, mempersilakan nathan duduk di sebelahnya yang satunya.

Nathan duduk dan membuka buku yang diambilnya. Zevana melihat bukunya. Novel teenlit? Tidak salah?

“novel teenlit? Lo suka baca novel yang beginian? Waw,” katanya terkejut.

Cakka mendengus. “novel teenlit? kisah cinta-cintaan? Ya maklum ajalah zev, cowok kayak dia mah terlalu terbuai dengan kisah cinta yang membahagiakan begitu. Gak sadar kalo udah ngancurin kisah orang,” celetuknya kesal.

Nathan masih terus sibuk membaca, seolah tak mendengarkan ucapan cakka yang menyindirnya barusan.

Zevana menatap keduanya bergantian. Tak ada yang saling melirik, apalagi memandang, tak ada pula yang menunjukkan raut emosi di wajah keduanya, membuatnya tidak mengerti dan bingung.

“ze! Sori telat! Tadi ada..” kata-kata agni yang baru datang terputus begitu melihat dua cowok yang ada di samping zevana.

“hai ag!” sapa cakka cepat. agni mengangguk.

“hai nath,” sapanya, menatap nathan yang tengah sibuk membaca. Nathan hanya mengangguk saja.

Cakka merengut kesal. Lagi-lagi nathan. Lagi-lagi alvin. Tak bisakah ia diperhatikan, sedikit saja? “ag, tadi ada apa?” tanya cakka memecah keheningan di antara mereka.

Agni melepaskan tatapannya dari nathan. “tadi ada.. rio,” jawabnya lirih.

“rio?” ucap zevana dan cakka berbarengan.

“siapa rio?” tanya cakka tidak mengerti.

“kak rio? ngapain dia kesini? bukannya lo udah putus sama dia ag?” tanya zevana.

“putus? Berarti..” kata cakka yang sudah mengerti.

Agni mengangguk. “mantan gue. dia minta penjelasan dari gue kenapa mutusin dia,” katanya sambil mengangkat bahu.

Keduanya membulatkan mulut dan manggut-manggut mengerti.

“lo masih sayang sama dia?” tanya cakka memberanikan diri.

Zevana dan agni tercengang dengan pertanyaan cakka barusan. Apakah maksudnya... “sayang, sebagai adik pada kakaknya,” jawab agni.

Cakka tersenyum puas.

Zevana dan agni yang melihat senyum itu menebak-nebak dalam hati masing-masing. Apa artinya? Apakah artinya cakka menyukai agni? atau cakka hanya sekedar ingin tahu saja? besar kemungkinan senyum itu berarti cakka menyukai agni, namun bagi agni, waktu pertemuan keduanya yang begitu singkat tak dapat membuatnya langsung menyukai cakka. dengan arti, menyukai cakka sebagai lawan jenis, bukan sebagai idola.
***
Kehadiran acha dan aren yang tiba-tiba membuat nathan terkejut. Keduanya tersenyum jahil, entah apa yang dipikirkan mereka.

“kalo dateng jangan tiba-tiba bisa gak? Kaget gue. tumben mau dateng ke sekolah,” kata nathan heran.

“eh vin,” panggil acha.

“jangan panggil gue dengan nama itu. kalo lo berdua masih manggil begitu, mendingan lo pergi aja sana,” sela nathan ketus.

Acha dan aren menggelengkan kepalanya, ingin mereka membantah nathan, namun tidak untuk kali ini. biarkan saja dulu.

“terserah lo deh. by the way, kayaknya lo lagi suka sama cewek nih,” goda aren.

Nathan mengangkat kepalanya, menatap aren. “maksud lo?” tanyanya tidak paham.

Acha duduk di atas meja nathan dan membaca tulisan-tulisan di laptop nathan yang sedang menyala. “jangan pura-pura gak nyadar deh lo. gue tau banget kok gelagat lo kalo lagi suka sama cewek. Gue masih inget kok vin pas lo mulai suka sama gue,” jawabnya tanpa melihat nathan.

“gue bukan alvin! dan gue gak lagi suka sama cewek! Sok tau banget sih lo berdua! Pergi sana!” usirnya.

Aren menutup mulutnya menahan tawa. “alvin alvin. lo bisa bohongin hati lo. tapi lo gak bisa bohongin kita vin. kita bisa baca pikiran dan isi hati lo,” kata aren.

“achaku yang manis, arenku yang cantik, catet ya! gue gak lagi suka sama siapapun dan gak akan pernah suka sama siapapun! Cukup banget bagi gue buat ngerasain pahitnya cinta. Dan gue gak butuh lebih banyak lagi! cukup lo, lo, nandya, dan silvia yang jadi korban gue! gue gak mau ngelukain siapapun lagi!” serunya marah sambil menunjuk acha dan aren.

Sebuah bunyi tepukkan tangan menggema di ruangan kelas yang sepi tersebut. “betul! Dan biarkan nathan bahagia dengan caranya sendiri!” seru dea, menatap aren dan acha tajam.

Acha dan aren berjalan menghampiri dea. “siapa sih lo? ikut campur banget sama urusan alvin! emangnya lo ceweknya? Bukan kan! jangan sok baik deh sama alvin, lo gak berhak nyuruh-nyuruh dia dan ngekang dia! sadar diri dong!” sinis acha.

“oh, jadi lo maunya gue pergi dari kehidupan nathan gitu? Jadinya lo berdua bisa bebas nyiksa dia? ngebuat dia jadi alvin lagi? waw! Gue kira cewek-ceweknya dia tuh imut-imut, baik-baik, manis-manis! Ternyata, lebih gak tau diri lagi! lo gak nyadar apa kalo nathan gak mau jadi alvin lagi! kalo dia udah jauh lebih baik semenjak jadi nathan! Gue Cuma akan pergi, kalo nathan yang minta gue pergi!” balas dea lebih sinis.

Dea beralih menatap nathan yang sedang menonton pertengkaran keduanya. “nathan! Sekarang gue tanya sama lo! lo mau gue pergi? Kalo lo yang minta, akan gue kabulin,” kata dea agak lembut.

Nathan menggeleng. “jangan ada yang tinggalin gue. lo berempat harus sama gue. dan gue minta! Gak ada yang bertengkar di antara lo semua! Terutama lo berdua!”

“dan gue harap, jangan ada yang bahas atau sebut nama alvin di depan gue. itu masa lalu, masa lalu yang terlalu pahit dan gak layak untuk dikenang dan diungkit. Semoga lo semua ngerti. Sekarang, lo semua pergi. Jangan sampai ada yang ngira gue sakit jiwa gara-gara gak ada yang percaya tentang keberadaan lo semua,” tambah nathan.

Ketiganya mengangguk dengan berat dan perlahan pergi meninggalkan nathan sendiri.

Seseorang yang sejak tadi menyimak di luar pintu cukup dipusingkan dengan hal ini. ia mengintip dan melihat tidak ada seorangpun selain nathan disana. Apa nathan.. sakit jiwa? Buru-buru ia menepis pikirannya. Kalau tidak salah dengar, tadi nathan menyebut-nyebut nama.. alvin? apakah nathan alvin?

Dilihat dengan relasinya dengan sivia dan shilla, juga ketidakakrabannya dengan cakka, dapat disimpulkan alvin yang dimaksud adalah alvinnya. Ya! alvinnya. Tapi.. ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya mengenai alvin dan nathan.

“vana!” tegur cakka, menepuk bahu zevana.

Zevana terlonjak kaget, kemudian mengelus dadanya. “cakka! jangan ngagetin napa!” katanya kesal.

“lah, abisan lo aneh banget. ngintip-ngintip segala lagi! ngeliatin apa sih?” tanya cakka penasaran. Lalu mengintip ke dalam kelas.

Ia melengos. Alvin rupanya. Cakka menegakkan kembali kepalanya. “ngapain lo ngintipin dia? naksir lo?” tanyanya ketus.

Zevana mengangkat bahu. “ada yang aneh sama dia. lo kenal sama dia cak? Kayaknya sirik amat lo,” tanya zevana heran.

“gak! Udahlah, ngapain sih merhatiin dia? mendingan lo temenin gue ke kantin yuk,” ajak cakka dengan menarik tangan zevana.

“jealous lo cak?” goda zevana.

Cakka menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap zevana. “iya! Puas lo?!” jawabnya asal.

Untung saja cakka sudah berbalik dan berjalan kembali, kalau tidak, zevana tidak tahu bagaimana harus menyembunyikan wajahnya yang memerah dari cakka. semoga cakka tidak mendengar detakkan jantungnya yang mendentum begitu cepat. dirinya sendiri tidak mengerti dengan perasaannya.
***